Jumat, 01 Maret 2013

KEBIJAKSANAAN PENYIARAN DAN PEMBINAAN (DA'WAH) WAHIDIYAH


KEBIJAKSANAAN PENYIARAN DAN PEMBINAAN (DA'WAH) WAHIDIYAH

BISMILLAAHIR' ROHMAANIR ROHIIM

PENDAHULUAN
Secara umum dan mutlak setiap Pengamal Wahidiyah bahkan siapa saja telah diberi ijazah dianjurkan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah supaya menyiarkan S'holawat Wahidiyah dan Ajarannya kepada masyarakat luas taripa pan-dang bulu dengan kebijaksanaan sebaik-baiknya (Lembaran Wahidiyah dibawah "KETERANGAN").
 Dapat diambil kesimpulan bahwa setiap Pengamal Wahi­diyah harus menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya kepada orang lain' dengan' kebijaksanaan sebaik-baiknya. Dan penyiaran Wahidiyah harus diikuti dengan pembinaan, Maka diantara kewajiban tiap-tiap Da'i Wahidiyah yang paling minim adalah mendorong, membimbing dan menggiatkan aktivitas setiap Pengamal Wahidiyah di dalam pengamalan dan penyiaran Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya, di samping tugas-tugas pembinaan pada umumnya.
Setiap anggauta (unsur) dari Penyiar Sholawat Wahidi­yah mulai dari Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat sampai para Ketua Jama'ah Wahidiyah dan sponsor-sponsor Wahidiyah yang  lain-lain,  adalah  Pemimpin  Wahidiyah  yang harus senantiasa mengutamakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai Pemimpin Wahidiyah, sebagai anggauta dari suatu lembaga yang paling mulya dalam pandangan Alloh yaitu Lembaga Khidmah Perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi shollallohi  'alaihi  wasallam.  Suatu  organisasi  kerja yang mengatur dan menjalankan amanat "DAA'I ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW" di bawah bimbingan Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah.



ANJURAN BAGI SETIAP PENYIAR & PEMBINA (DA'I) WAHIDIYAH
1.       Bermujahadah lebih dahulu sebelum melaksanakan tugas. (Periksa lampiran Aurod Mujahadah Khusus Peningkatan) diperhatikan dan ditrapkan bahwa :

Fadlolnya AHoh Ta'ala (maghfiroh, taufiq, hidayah, 'inayah dan sebagainya) tidak akan diberikan kecuali kepada orang yang hatinya sungguh-sungguh merana (nlongso) meratapi dosa-dosanya dan yang menghadang membutuhkan pertolongan Ilahi ) .
Konsultasi batin (tawassul) kepada Junjungan kita Rosululloh saw, kepada Ghoutsu Hadzaz-Zaman wa A'waanihi wa saairi Ahbaabillahi was-solihin khusus-nya setempat kita berda'wah rodiyallohu Ta'ala 'anhum. Hadiah-hadiah mujahadah ditujukan antara lain kepada masyarakat/perorangan yang dikehendaki.
Perlu memperhatikan dan menyadari firman Alloh :
(Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orangv,yang engkau kasihi, tetapi Alloh yang memberi petunjuk kepada prang yang dikehendaki-NYA, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk).
2.       Membuat persiapan-persiapan ilmiah/penjelasan-Penjelasan ke Wahidiyah yang diperlukan. Matla'ah buku-buku Wahidiyah atau mendengarkan kaset-kaset Kuliah Wahidiyah. Pilihlah judul yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang akan diberi kuliah.
3.       Mulai berangkat dari rumah menuju tempat acara/ rumah orang yang dituju senantiasa mujahadah batin dan memperbanyak membaca :
           dan  

sekuat mungkin mengetrapkan

4.       Usahakan agar kondisi jasmani/fisik kita dalam keadaan segar dan sehat. Misalnya mandi lebih dahulu, dan sebelum berangkat ke tempat acara sebaiknya berwudlu terlebih dahulu.
5.       Sebelum seluruh acara selesai supaya membatasi diri untuk berbicara yang penting-pennting saja dan seperlunya. Lebih banyak sukur berkonsentrasi ala Wahidiyah.
6.       Berpakaian yang bersih, rapi dan simpatik dalam pandangan masyarakat setempat. Pria berbaju lengan panjang (hem, jas dan semacainnya), bersarung atau bercelana dan berkopyah (songkok) hitam. Wanita memakai. kain panjang, baju kebaya dan berkerudung atau long dress lengan panjang dan berkerudung segi tiga. Kerudung ala Minang lebih primpen. Bersepatu atau sandal (jangan pakai sandal jepit/ bakiyak).
7.       Ketika akan berangkat menuju podium, memberi hormat dengan anggukan kepala kepada orang-orang yang seatasnya yang ada disekitar kita dan mohon do'a restu. Berjalan menuju podium dengan sopan dan tidak tergesa-gesa, terutama usahakan sekuat mung­kin menerapkan Lillah-Billah, Lirrosul-Birrosul, Lilghouts-Bilghouts.
8.       Berdiri tegak dimuka mikropone dan mengarahkan hormat kepada hadirin-hadirot kanan kiri sekedarnya, dengan pandangan yang simpatik, penuh dijiwai sorotan batin yang tajam. Jangan menundukkan kepa­la !.

9.       Sebelum salam berkonsentrasi :
Tasyaffu'an dan 'istighoutsah batin. Kemudian mengucapkan salam menghadap arah hadirin hadirot dengan menghayati maknanya salam. Kemudian membaca : Bismillaahir Rohmaanir Rohiim kemudian khutbah iftitah ala Wahidiyah dengan menghayati maknanya. Khutbah iftitah harus mengandung tahmid, sholawat dan istighoutsah. Kemudian jangan lupa : Arama Ba'du.
10.   Bersikap hormat dan sopan, baik dalam gerak-gerik maupun dalam ucapan.
-          Bersungguh-sungguh (meyakinkan) dalam pembicaraan dan jangan membuat humor.
-          Berbicara dengan bahasa hati "hati yang dipenuhi oleh pancaran Fafirru Ilallohi wa Rosuulihi saw".
-          Tidak perlu membuat kata-kata yang. bersifat agitasi lahir dan jangan mengeluarkan pujian-pujian kepada orang-orang atau kepada sesuatu yang bersifat denstratif yang berlebih-lebihan, mela-inkan disertai dengan "Tahaduts bin-ni'mah".
-          Jangan sekali-kali mengeluarkan kata-kata yang bisa menimbulkan singgungan lebih-lebih sindiran.
-          Jika menggunakan dalil-dalil Qur'an, Hadits atau Aqwaalul Ulama’  membacanya harus fasih dan tepat, dan jika mungkin sebutkan makhodz/pengambilannya. Qur'an surat apa ayat berapa. Hadits, rowinya atau dari" kitab apa. Aqwaalul Ulama "oilnya atau dari kitab apa.
Jangan mengeluarkan dalil sepotong-sepotong, sehingga terganggu kejelasannya.

-          Bagi yang kurang fasih membaca kalimah bahasa arab, sebaiknya cukup member ikan artinya saja kurang lebih, dan tidak usah mengucapkan dalilnya.
-          Sebelum salam, berkonsentrasi tasyaffu dan Istighoutsah batin. Kemudian mengucapkan salam menghadap arah hadirin hadirot dengan menghayati makna salam. Kemudian membaca  dan khutbah iftitah ala Wahidiyah dengan mengha­yati maknanya. Khutbah iftitah harus mengandung tahmid, Sholawat dan istighoutsah. Amma Ba'du.
11.   Harus diusahakan  situasi  hadirin-hadirot tetap dan terarah.
-          Kuliah-kuliah Wahidiyah harus sering diselingi dengan Mujahadah, minimum pembacaan Surat Al Faatihah satu kali, jika hadirin sebagian besar belum pengamal Wahidiyah. Jika sebagian bes;ar hadirin sudah Pengamal Wahidiyah minimum mujahadah adalah                                                 atau tasyaffu dan istighoutsah.
-          Jika pada suatu ketika pembicaraan mengalami kurang lancar (buntu) sebaiknya dialihkan saja kepada mujahadah. Jangan memaksakan pembicaraan yang tidak terarah.
12.   Jika berbicara di hadapan perorangan dalam rangka penyiaran  Wahidiyah  perlu  diperhatikan  antara lain :
a.       Bersikap sopan, ramah tamah dan hormat, dan menyesuaikan diri dengan siapa kita berbicara, lebih-lebih terhadap yang mempunyai kedudukan (sosial, ekonomi atau ilmiyah) yang lebih tirggi dari kita.
b.      Senantiasa husnudhon bahwa mukhotob mensiruh perhatian kepada da'wahnya bifadlillillah wa bi syafa'ati Rosuulillah saw. wa Ghoutsi Hadzaz-zaman r.a. Peganglah teguh

dengan menggetarkan  didalam hati.
c.       Jangan memonopoli pembicaraan. Berilah kesempatan mukhotob mengeluarkan pendapatnya, bahkan jika perlu mintalah pendapatnya
d.      Jangan mengadakan perdebatan (mujahada). Jika terjadi perbedaan pendapat, alihkan pembicaraan kepada hal lain yang dek'at hubungannya dengan penyiaran.
e.      Usahakan suasana percakapan sedemikian rupa sehingga pada kahir percakapan dapat diadakan praktek pembacaan Sholawat Wahidiyah satu kali, minimum surat Al Faatihah dan
f.        Usahakan agar mudda'a 'alaih segera melakukan pengamalan 40 hari, syukur dengan keluarganya atau paling-paling supaya memperbanyak
g.       Tidak boleh membicarakan tentang ke walian dan tentang karomah atau keampuhan orang seorang. Jika ada pertanyaan tentang Ghouts, jawabannya seperti pada Buku Kuliah Wahidiyah. Sama sekali tidak boleh menunjuk atau menyebut-nyebut nama seseorang sebagai pemangku jabatan ke walian seperti Abdal, Autad lebih-lebih Ghoutsu Hadzaz-Zaman .
13.   Jika masuk ke dalam daerah atau desa yang baru dan lebih-lebih untuk mengadakan pengamalan muja-hadah Wahidiyah, harus permisi sekurang-kurangnya memberi tahu dan mengenalkan diri kepada pejabat pemerintahan setempat, seperti Kepala Desa, Modin dan sebagainya serta tokoh masyarakat setempat, seperti Kyai, Cendikiawan dan sebagainya.
14.   Jika da'wahnya mendapat kelancaran dan sukses harus terus meningkatkan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi saw wa Ghoutsu Hadzaz-Zaman, terutama peningkatan kesadaran BILLAH, BIRROSUL dan BILGHOUTS. Jangan sekali-kali di aku, lebih-lebih membanggakan diri.
Dan jika da'wahnya belum berhasil harus tetap sabar, ridlo dan tawakkal, tetapi jangan putus asa, dan memperdalam koreksi diri:
 dan meningkatkan mujahadah.

II.      PEDOMAN KEBIJAKSANAAN PENYIARAN DAN PEMBINAAN WAHIDIYAH
(Ajaklah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah1) dan wejangan-wejangan yang baik-baik2) dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik 3).
1.       Hikmah = kebijaksanaan. Yaitu adil, berilmu dan sopan santun, lemah lembut/ memakai perhitungan (berfalsafah) dan kebenaran."Pangkal hikmah adalah takut kepada Alloh".
2.           Pelajaran-pelajaran dan penjelasan penjelasan yang baik dan dilaksanakan dengan cara yang baik pula.
3.       Yakni dengan cara yang mengandung macam-macam kasih sayang kepada mereka.
Barang siapa diantara kamu sekalian mengetahui perkara yang mungkar, maka robahlah dengan tang-nya, dan jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah paling lemah-lemahnya iman).

Hubungan ini Beliau Hadrotul Mukarrom Romo Yahi, Muallif Sholawat Wahidiyah memberikan fatwa dan amanatnya antara lain bahwa kita para pengamal Wahidiyah harus ikrar bahwa iman, kita adalah lemah. Kita harus mengubah perkara mungkar terutama dalam diri kita sendiri dengan hati kita, yaitu dengan mujahadah kita mohonkan bagi ummat dan masyarakat bahkan bagi makhluk pada umumnya (yang mengalami akibat buruk dari lemahnya iman kita).
Pada zaman akhir ini banyak yang mengaku beriman, tetapi hanya seperti untuk (buih) di lautan. Terombang-ambing  kesana  kemari  oleh  anginnya nafsu.
Mari kita doki dari kita sendiri termasuk itu !.
    Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan : "kami telah , sedang mereka tidak akan diuji lagi?
Sebagian mufassir memberi arti : "Aku, Alloh Yang Maha Tahu"
Alif = ANA, Lam = Alloh, Him = A'lamu
(The Holy Qur'an - Maulana Muhammad Ali, M.A. LLB terjemah H.M. Bachrun).
Seorang mukmin itu berada di antara lima perkara yang berat : Cesama mukmin yang menghasutnya, munafiq yang marah kepadanya, orang kafir yang membunuhnya, setan yang menyesatkannya dan nafsu yang menentangnya.
Satu-satunya jalan keluar yang menyelamat ,an dan melindunginya adalah inabah kepada Alloh istilah Wahidiyah Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi saw.

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Alloh Maha mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguh­nya Dia Maha mengetahui orang-orang yang dusta.

 Bukan mukmin yang menyempurnakan iman, orang tidak memandang balak/ujian hidup sebagai nikmat Alloh dan tidak memandang kelonggaran sebagai mu-sibah.
Barang siapa diuji kemudian sabar, diberi bersyu-kur, didholimi memberi ampun, berbuat dholim minta ma'af, mereka itulah yancj memperoleh kea-manan dan mereka itulah orang . yang mendapat pe-tunjuk.
Dan sesungguhnya kami akan menguji ke.mu sekalian, sehingga Kami mengetahui orang-orang yang sungguh sungguh berjuang dan bersabar diantara kamu sekalian dan kami mengetahui hal ihwal kamu se­kalian

Dan begitu juga telah kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa dan cukuplah Tuhanmu yang memberi petunjuk dan Pertolongan.
Ayat sebelumnya
Dan berkatalah Rosul (saw) "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini sesu atu yang ditinggalkan (tidak dihiraukan).

Ikutilah apa yang telah diwahyukan Tuhanmu kepadamu, tidak ada Tuhan selain Dia, dan berpaling­lah dari orang-orang musyrik.

Dan kalau Alloh menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan-Nya dan kami tidak menjadikan kamu sebagai pemelihara bagi mereka. Dan kamu bukanlah menjadi wakil pengurus

Dan jika kamu sekalian mengajak mereka kepada petunjuk (Alloh) mereka tidak mendengar, dan engkau melihat mereka memandang kepada engkau, tetapi mereka tak melihat (bil bashirohK Berilah maaf dan suruhlah orang berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.
Maka jika mereka berpaling, maka Kami tidak me-ngutus engkau sebagai pengawas bagi mereka : Kewajibanmu tidak lain hanyalah rnenyampaikan (penyiaran). Sesungguhnya apabila kami merasakan kepada manusia sesuatu rohmat dari Kami, dia bergembira ria dengan rohmat .itu. Dan jika mere­ka ditimpa suatu keburukan karena apa yang telah dilakukan oleh tangan-tangan mereka, maka se-sungguhnya manusia itu amat tidak berterima kasih.

Barang siapa yang mentaati Rosul (saw), maka sungguh ia telah taat kepada Alloh. Dan barang siapa berpaling (dari taat Rosul), maka Kami tidak mengutus engkau sebagai pemelihara mereka"


Dan sungguh para Shohabat Nabi saw dan para Tabi'in disakiti dan dianiaya. Mereka tidak tergesa-gesa mendoakan yang merugikan bagi orang-orang yang menganiaya disebabkan karena kesadaran mereka akan BILLAR. Dan oieh karena kesadaran mereka bahwa 'Alloh Ta'ala menghendaki yang demikian itu ur.tuk menambah dan meningkatkan iltijak kepada Allch, dan untuk melahirkan tugas ubudiyah kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan untuk lebih men je;rnihkan hati mereka serta untuk meningkatkan derajat keduduk-an mereka.

Berkata Syekh Sahal At-Tustari :
"Pegang teguhlah kamu sekalian mengikuti Atsar dan Sunnah (Rosul saw). Maka sesungguhnya aku takut bakal datang suatu zainan dimana jika ada manusia rnengingat (menyebut/menga jak ) kepada Nabi saw dan mengikuti segala ahwalnya Nabi saw, masyarakat mencelanya dan mereka menghinanya dar merendahkannya.
Sesungguhnya Alloh men jadikan bagi tiap-tiap Nabi musuh-musuh dari kalangan orang-orang yang berlarut-larut agar supaya yang demikian itu untuk mengangkat dan meningkatkan derajat mereka para nabi. Begitu juga terhadap orang-orang mukmin yang kamil, untuk menambah kesucian hati :nereka didalam menghadap kepada Alloh Ta'ala pada saat timbulnya kejadian yang mena-kutkan dari pengontras mereka, maka mereka menjadi bertambah dekat kepada Alloh.

Ketahuilah bahwa Syare'at itupun 'ainul haqiqoh. Karena syari'at itu meliputi dua daerah, daerah a.tas dan daerah bawah. Daerah atas bagi orang-orang ahlul kasyfi dan yang bawah bagi orang-orang ahlul fikri. Maka setelah ahlul fikri meniti-niti apa yang diutarakan ahl«fll kasyfi dan tidak dapat dijangkau di dalam daerah pemi-kiran mereka, mereka mengatakan ini keluar dari syari'at. Maka ahlul fikri ingkar terhadap ahlul kasyfi, tetapi sebaliknya ahlul-kasyfi tidak ingkar kepada ahlul fikri. Maka barang siapa menjadi orang ahlul fikri dan disamping itu juga ahlul-kasyfi, itulah dia hakiimuz-zaman.
Berbahagialah barang siapa dapat bertemu dengan orang yang


Tidaklah menjadi sesat suatu kaum setelah me reka memperoleh petunjuk, melainkan mereka yang mendatangi perbantahan. Kemudian Rosululloh saw membaca ayat ini :
(bahkan mereka adalah kaum yang suka pertukar padu )



“Ketika kaum mengikuti hawa nafsu mereka, maka Alloh menguji mereka dengan dajjal".
(1)     Lengkapnya ayat adalah :

Dan mereka berkata : "Manakah yang lebih baik Tuhan kami atau dia (Isa A.s.) mereka tidak memberikan perumparnaan itu kepadamu melainkan hanya dengan maksud berbantah-bantahan saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar” (2)
(2)     Ayat 57 dan 58 diatas mencentakan Kembali pada kejadian sevraktu Rosuululloh saw membaca-kan dihadapan orang-orang Quraisy ayat 98 surat Al Anbiya yang artinya : "Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Alloh adalah kayu bakar jahannam".
Maka seorang Quraisy bernama Abdullah bin Az-Zab'ari menanyakan kepada Rosuululloh saw. tentang Isa a.s. yang disembah oleh kaum Nasrani apakah  juga menj/idi kayu bakar neraka jahannam  seperti  halnya  sembahan-sembahan mereka (berhala). Rosululloh terdiam tidak memberi jawaban, dan merekapun (kaum Quraisy) menertawakannya. Lalu mereka menanyakan lagi, mana yang lebih baik antara sembahan-sembahan mereka (berhala) dengan Isa a.s. yang disem-bah kaum Nasrani. Pertanyaan-pertanyaan mere­ka  ini  hanya  merupakan  perbantahan  saja, bukan ingin mencari kebenaran (Tafsir dalam Al  Qur'an  dan  Ter jemahannya  oleh  Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'ab diketuai Prof. R.H.A. Soenarjo, -S.H. cetakan tahun 1970).
         ALFAATIHAH !













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar